Kamis, 17 Desember 2015

Contoh Analisis Kelembagaan dengan ISM

Analisis struktur untuk mengembangkan agroindustri mangga Arumanis segar dan olahan di Kabupaten Probolinggo sebagai produk yang optimal perlu didukung oleh kelembagaan yang memadai. Dalam penelitian ini, elemen struktur kelembagaan dibatasi pada beberapa pelaku yang dianggap cukup berperan dalam kelembagaan agroindustri mangga Arumanis segar dan olahan, yaitu : 1) Lembaga Perguruan Tinggi, 2) Dinas Pertanian, 3) Perbankan, 4) Pengusaha Agoindustri Mangga Arumanis Skala Kecil dan Menengah, 5) Kluster, 6) Kadin, 7) Pedagang Perantara (Agen), 8) Disperindag, dan  9) Koperasi.
             Hasil analisis kelembagaan secara struktural dengan teknik ISM disajikan pada Gambar 2, bahwa elemen kunci kelembagaan adalah Disperindag (8). Hal ini menunjukkan bahwa, keberhasilan pengembangan agroindustri mangga Arumanis segar dan olahan di Kabupaten Probolinggo sangat ditentukan oleh kemampuan dan kinerja Dinas perindustrian dan perdagangan (Disperindag) dalam menetapkan kebijakan yang dimiliki.
             Sedangkan pihak  Lembaga Perguruan Tinggi (1), Dinas Pertanian (2), Perbankan (3), Pengusaha Agroindustri Mangga Arumanis Skala Kecil dan Menengah (4), Pedagang Perantara (Agen) (7), dan Koperasi (9) termasuk dalam sektor III. Elemen-elemen pada sektor III ini merupakan peubah yang harus dikaji secara hati-hati, sebab hubungan antar peubah tidak stabil dan dapat memberikan dampak berhasil tidaknya suatu pengembangan agroindustri mangga Arumanis segar dan olahan di Kabupaten Probolinggo. Hal ini berarti aparat birokrasi di daerah harus mampu menciptakan iklim yang kondusif yang mendorong berkembangnya agroindustri, antara lain melalui kebijakan yang memihak kepada Pengusaha Agroindustri Mangga Arumanis Skala Kecil dan Menengah. Lembaga Kluster dan Kadin terletak pada sektor II adalah peubah tidak bebas.
 

Gambar 2. Matriks Driver-Power dan Dependence Kelembagaan

Gumbira dan Haritz (2001) menyatakan keberadaan kelembagaan pendukung pengembangan agribisnis nasional sangat penting untuk menciptakan agroindustri Indonesia yang tangguh dan kompetitif. Lembaga-lembaga pendukung tersebut sangat menentukan dalam upaya menjamin terciptanya integrasi agribisnis dalam mewujudkan tujuan pengembangan agribisnis. Beberapa lembaga pendukung pengembangan agribisnis Indonesia adalah (1) pemerintah, (2) lembaga pembiayaan, (3) lembaga pemasaran dan distribusi, (4) koperasi, (5) lembaga pendidikan formal dan informal, (6) lembaga penyuluhan pertanian lapangan, dan (7) lembaga penjamin dan penanggungan risiko.
Thailand mempunyai keunggulan pengembangan agribisnis hortikultura yang lebih baik dari negara lain, hal ini disebabkan adanya 1) Kerjasama yang terpadu antara pengusaha, masyarakat dan pemerintah sangat langgeng dan berkesimbangungan, di mana ide-ide dan motivasi pengusaha berkembang dengan mendapat dukungan dari pemerintah untuk merealisasikannya, dan 2) Koordinasi antara instansi pemerintah dengan asoiasi-asosiasi sangat baik, terutama dengan board of trade (BOT), Federation of Thai-industry Assoiation (FTA), dan Thailand Banking Assosiation (TBA) (Antara, 2004).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar