Selasa, 11 Agustus 2015
Jumat, 31 Juli 2015
Rabu, 17 Juni 2015
Selasa, 19 Mei 2015
Islamic Group Lending Model (GLM) dan Keuangan Inklusif: Studi Dampak dan Strategi Pengembangan (2)
HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis Model
Berdasarkan
hasil analisis statistik data SEM serta hasil temuan di lapangan, terungkap
bahwa karakteristik budaya masyarakat tertentu dapat mempengaruhi perilaku
masyarakat dalam menentukan efektif tidaknya sebuah program GLM bagi
masyarakat. Sebaliknya faktor organisasi atau pemerintahan belum sepenuhnya
efektif dalam mendukung terlaksananya program GLM yang baik bagi masyarakat.
Setelah
melalui serangkaian uji pada SEM serta melalui tahap ‘sortir’ atas indikator
yang memiliki nilai loading faktor ≤ 3,00 (Wijanto, 2008), maka model akhir
yang dibangun dalam penelitian ini memiliki tiga variabel laten, yaitu variabel
laten X (karakteristik budaya) yang memiliki 3 indikator teramati, variabel
laten Y (organisasi/peran pemerintah) dengan 4 indikator teramati, dan variabel
laten Z (efektifitas program GLM) dengan 5 indikator teramati (untuk lebih
lengkapnya penjelasan variabel dan indikator teramati yang digunakan dalam SEM
dapat dilihat pada subbab metodologi). Pada tahap awal analisis model, data
yang diperoleh diuji terlebih dahulu validitas dan reliabilitas. Validitas
model pengukuran dilakukan dengan melihat nilai-t muatan faktor. Suatu variabel
dikatakan memiliki validitas yang baik jika memiliki nilai-t muatan faktor
lebih besar dari nilai kritis 1,96 (Ridgon dan Ferguson dalam Wijanto, 2008).
Hasil estimasi nilai t-muatan faktor model pertama dapat dilihat pada gambar 2
berikut ini:
Minggu, 17 Mei 2015
Islamic Group Lending Model (GLM) dan Keuangan Inklusif: Studi Dampak dan Strategi Pengembangan (1)
Oleh: Aam S. Rusydiana & Abrista Devi
Abstract
Kesenjangan
akses modal masyarakat miskin terhadap perbankan di Indonesia semakin besar.
Hal ini disebabkan oleh masyarakat miskin tidak memiliki collateral yang cukup
sebagaimana disyaratkan oleh perbankan untuk memperoleh pinjaman. Lembaga
keuangan non bank dalam hal ini lembaga keuangan mikro yang sudah banyak
menjamah kelompok miskin serta usaha mikro kecil menengah juga perlu
dimaksimalkan keberadaannya, termasuk juga model pinjaman berbasis kelompok
(GLM).
Penelitian ini
akan mencoba melihat bentuk model pinjaman berbasis kelompok (Group Lending
Model) dan bagaimana dampaknya terhadap struktur sosial anggotanya. Penelitian
ini juga mencoba memberikan solusi berupa analisis strategi awal pengembangan Islamic GLM agar lebih efektif dan
efisien. Metode yang digunakan adalah Structural Equation Modeling (SEM) dan
Interpretaive Structural Modeling.
Berdasarkan
pengukuran beberapa indikator diantaranya adalah tingkat partisipasi
masyarakat, pemberdayaan masyarakat, repayment rate yang baik, cross
reporting yang baik, serta penerapan penalty sesuai dengan aturan
yang berlaku, hasilnya menunjukkan bahwa dengan adanya program GLM masyarakat
merasakan perbedaan baik dari kondisi ekonomi maupun sosial dari sebelum dan
setelah mengikuti program. Ini menjadi temuan penting yang berharga.
Adapun strategi
pengembangan untuk program GLM ini terbagi menjadi 7 level dengan elemen-elemen
terpentingnya antara lain: Perlunya
kesetaraan akses dana untuk segala jenis institusi keuangan, baik perbankan
maupun model pinjaman berbasis kelompok, Perlunya peningkatan kualitas sumber daya
manusia sebagai pionir pelayanan model pinjaman berbasis kelompok ini, serta Pentingnya
keuangan inklusif pada seluruh sistem keuangan.
Keywords: Group
Lending Model, Keuangan Inklusif, Structural Equation Model (SEM),
Interpretative Structural Modeling (ISM), Islamic Empowerment
Selasa, 21 April 2015
Kasus ISM dalam Industrialisasi Pertanian
Sebagai contoh kasus dikaji aplikasi pada telaah strategi
industrialisasi pertanian di daerah tertinggal (Eriyanto, 1996).
Industrialisasian pertanian adalah pendirian argoindustri di pedesaan
berbasis komoditi pertaniaan, dalam
rangka meningkatkan nilai tambah pendapatan petani/nelayan. Yang dimsksud daerah tertinggal adalah
seperti pulau-pulau terpencil, wilayah
perbatasan, serta daerah yang minim
infrastruktur, baik itu listrik dan
transportasi.
Dari 9
elemen hasil deliniasi program pilihan no. 5 yaitu tujuan program. Setelah konsultasi group
pakar dan wawncara yang mendalam secara lintas sektoral, maka dari elemen tujuan yang diuraikan
didapat 12 sub-elemen, yaitu :
1. Rancanganan bangunan peralatan dan mesin
yang efisien
2. Mempergunakan bahan baku secara optimal
3. Melakukan
alih teknologi budidaya
4. Aplikasi teknologi tepet guna untuk
industri pedesaan
5. Melaksanakan konservasi sumberdaya
alam
6. Meningkatkan kualitas produk
7. Memberikan suplai bahan baku
industri yang cukup dan berkesinambungan
8. Membangun infrastruktur yang memadai
9. Membina lembaga keuangan modal
alternative
10. Mengembangkan kebijakan iklim usaha
11. Membina tenaga kerja industri (SDM)
12. Meningkatkan produk ekspor dan
substitusi impor
Setelah menetapkan kedua belas sub-elemen tujuan tersebut
kemudian dilakukan expert survey, dan dari masukan para pakar dan
praktisi sebagai panelis disusunlah SSIM sebagaimana pada (Gambar 7-2).
Kemudian dibuat RM (Gambar 7-3) dan dilakukan proses pengecekan Aturan
Transivity sampai didapatkan final SSIM
(Gambar 7-4) dan final RM
(Gambar 7-5).
Setelah dilakukan proses analisis melalui jalur teknik ISM
maka akan dihasilkan :
1) Struktur
sistem dari setiap elemen (Gambar 7-6)
2) Rank dan
Hirarki dari sub-elemen pada setiap elemen
3) Klasifikasi
sub-elemen pada empat kategori peubah
(Gambar 7-7).
Setelah
meletakan dasar struktur dengan ISM,
selanjutnya dipostulasikan tiga tahap penyelesaian lanjutan yaitu :
1) Kreatifitas
: dimana kehendak, perhatian dan persoalan dari si pengambil keputusan
dikemukakan melalui pemanfaatan dari
metafon yang bertindak sebagai penyaring dan juga memberikan pendalaman
terhadap situasi masalahnya.
2) Pilihan (choice) : yaitu identifikasi dari sistem yang
tetap berdasarkan isu/perihal yang terbuka sewaktu tahap pertama. Pada tahap ini terjadilah keterkaitan dengan
konsep ‘’System of Systems Methodelogies’’
dari Total System Intervention (TSI).
3) Implementasi
: disinilah metafor yang dominan
dan menentuka sekaligus metodelogi sistem yang bersangkutan, harus berfungsi
untuk menjamin perubahan organisasional yang terkoordinir dan efektif.
Rabu, 11 Maret 2015
Klasifikasi Sub-elemen
Untuk
beragam sub-elemen dalam suatu elemen berdasar RM disusunlah Driver-Power-Dependence. Klasifikasi
sub-elemen dipaparkan dalam empat sector :
Sektor
1 : Weak driver-weak dependent variables (AUTONOMOUS). Perubahan disektor ini umumnya tidak
berkaitan dengan sistem, dan mungkin
memeiliki hubungan kecil, meskipun hubungan bisa saja kuat.
Sektor
2 :
Weak driver-strongly dependent variables (DEPENDENT). Umumnya perubahan disisni tidak bebas.
Sektor
3 : Strong driver-strongly dependent
variables (LINKAGE). Peubah
pada sektor ini harus dikaji secara hati-hati sebab hubungan antar peubah
adalah tidak stabil. Setiap tindakan
pada peubah tersebuat akan memeberikan
dapak terhadap lainnya dan umpan balik pengaruhnya bisa memperbesar dampak.
Sektor
4 : Strong drive weak dependent
variables (INDEPENDENT).
Peubah pada sektor ini merupakan
bagian sisa dari sistem dan disebut peubah bebas.
Dalam
keseluruhan proses teknik ISM maka berbagai urutan kerja dari tahap penyusunan
hierrarki sampai hasil analisis dapat dilihat pada Gambar
7-1. Tergantung kepada kehendak
dan tim perekayasa model serta
persyaratan dari prihal yang dikaji,
berbagai macam bentuk struktur model dapat dibangkitkan dalam ISM. Beberapa alternatif struktur dapat dilihat
pada Table 7-2.
Berdasarkan
pengalaman empirik dalm meyusun sub-elemen dari suatu elemen tertentu, awalnya
diperlukan daftar selengkap mungkin
(exhausted list). Setelah
itu dilakukan pengurangan dengan
perinsip eliminasi sub-elemen yang tidak begitu penting; dan atau menyatukan dua atau tiga
sub-elemen. Selain itu, menentukan
hubungan kontekstualpun harus dipikir masak-masak dan bisa merujuk pada kasus
yang sejenis.
Hal ini untuk menghindari kesesatan
dalam penarikan kesimpulan sebagai interprestasi hasil Diagram ISM maupun DP-D
matriks.
Table
7-2. Alternatif Struktur yang Direkayasa ISM
|
No.
|
Jenis
|
Penjelasan
|
|
|
1
|
Keinginan
|
Elemen :
Hebungan :
|
Tujuan
A dapat membantu mencapai B
|
|
2
|
Prioritas
|
Elemen :
Hubungan :
|
Proyek, Sasaran dll A adalah sama atau
lebih berprioritas dari B (Hubungan bisa timbale balik)
|
|
3
|
Pengembangan Atribut
|
Elemen :
Hubungan :
|
Permasalahan, peluang, sebab dll
A dapat menyebapkan B
|
|
4
|
Struktur dari suatu proses
|
Elemen :
Hubungan :
|
Aktifitas, kejadian dll
A dapat mendahului B
|
|
5
|
Keterkaitan matematis
|
Elemen :
Hubungan :
|
Parameter dan faktor Kuantitatif
A adalah fungsi dari B
|
Langganan:
Postingan (Atom)


