Kamis, 04 Januari 2018
Kamis, 21 Desember 2017
Tutorial Metode ISM
Interpretative
Structural Modeling (ISM) merupakan teknik
pemodelan yang dikembangkan untuk perencanaan kebijakan strategi (Marimin:
2004). ISM diciptakan pertama kali oleh J. Warfield pada tahun 1973, dimana
Warfield mendefinisikan ISM sebagai proses belajar dengan bantuan komputer yang memungkinkan
individu-individu atau kelompok untuk mengembangkan peta hubungan yang kompleks
antara berbagai elemen yang terlibat dalam situasi yang kompleks.
Interpretive
Structural Modelling (ISM) sebagaimana diaplikasikan oleh Bhattacharya dan
Momaya (2009), Takkar et.al., (2008), Bolanos (2005) adalah metodologi
perencanaan interaktif canggih yang memungkinkan sekelompok orang, bekerja
sebagai tim, untuk mengembangkan struktur yang mendefinisikan hubungan di
antara unsur-unsur dalam suatu himpunan. Struktur diperoleh dengan menjawab
pertanyaan sederhana. Unsur yang akan terstruktur (seperti tujuan, hambatan,
masalah, dan sebagainya) yang ditentukan oleh kelompok pada awal sesi
perencanaan ISM. Proses ISM dimulai dari permodelan system dan diakhiri dengan
validasi model. Melalui teknik ISM, model mental yang tidak jelas
ditransformasikan menjadi model system yang tampak (visible).
Selasa, 19 Desember 2017
Beberapa Referensi Penting Metode ISM
Bolanos et.al. (2005). “Using Interpretive Structural Modelling in Strategic Decision-Making Groups”. Management Decision 43 (6): 877-895.
Devi, Abrista and Rusydiana, Aam Slamet (2016), “Islamic Group Lending Model (GLM) and Financial Inclusion”, International Journal of Islamic Business Ethics Vol. 1 No 1, pp. 80-94.
Faisal, M.N., and Al-Esmael, B.A. (2014), “Modeling the enablers of organizational commitment”, Business Process Management Journal, Vol. 20, No. 1, pp. 25-46.
Faisal, M.N. (2015), “A study of inhibitors to transparency in red meat supply chains in Gulf cooperation council (GCC) countries”, Business Process Management Journal, Vol. 21, No. 6, pp. 1299-1318.
Gorvett, R., and Liu, N. (2007), Using interpretive structural modeling to identify and quantify interactive risks. Orlando –USA: ASTIN Colloquium.
Jabeen, F., and Faisal, M.N. (2018), “Imperatives for improving entrepreneurial behavior among females in the UAE: An empirical study and structural model”, Gender in Management: An International Journal, pp. 1754-2413.
Jabeen, F., and Faisal, M.N., and Katsioloudes, M.I. (2017), “Entrepreneurial mindset and the role of universities as strategic drivers of entrepreneurship evidence from the UAE”, Journal of Small Business and Enterprise Development, Vol. 24, No. 1, pp. 136-157.
Kanungo S dan V.V. Batnagar, 2002. “Beyond Generic Models for Information System Quality : The Use of Interpretative Structural Modelling (ISM)”. Journal of System Research and Behavior Science. Vol. 19 (2), P 531:549.
Lee, D. M. (2007). Structured Decision Making with Interpretive Structural Modelling (ISM). Canada: Sorach Inc.
Li, M., and Yang, J. (2014), “Analysis of interrelationships between critical waste factors in office building retrofit projects using interpretive structural modeling”, International Journal of Construction Management, Vol. 14, No. 1, pp. 15-27.
Marimin (2004), Pengambilan Keputusan Kreteria Majemuk. Teknik dan Aplikasi. Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta.
Ravi, V. (2015), “Analysis of interactions among barriers of eco-efficiency in electronics packaging industry”, Journal of Cleaner Production, Vol. 101, pp. 16-25.
Rusydiana, Aam S., and Devi, Abrista. (2018), “Mengembangkan koperasi syariah di Indonesia: Pendekatan interpretive structural model (ISM)“, Jurnal Economica, Vol. 9, No. 1, 2018.
Sage, A (1977), Interpretive Structural Modeling: Methodology for Large-Scale Systems, McGraw-Hill, New York, NY, pp. 91-164.
Takkar, J., et.al. (2007). “Development of a Balanced Scorecard, An Integrated Approach of Interpretive Sructural Modeling (ISM) and Analytic Network Process (ANP)”. International Journal of Productivity and Performance Management 56 (1): 25-59.
Venkatesh, V.G., Rathi, S., and Patwa, S. (2015), “Analysis on supply chain risks in indian apparel retail chains and proposal of risk prioritization model using interpretive structural modeling”, Journal of Retailing and Consumer Services, Vol. 26, pp. 153-167.
Warfield, J.N. (1974), “Developing interconnected matrices in structural modeling”, IEEE Transactions on System, Man and Cybernetics, Vol. SMC-4 No. 1, pp. 81-87.
Rabu, 15 November 2017
Tahapan Penelitian Metode ISM
Bagian pertama
dari penelitian ini adalah melakukan pemodelan. Model akan ditampilkan secara
grafis dengan memuat elemen-elemen dan hubungan relasinya menggunakan metode Interpretative
Structural Modeling (ISM). Dalam hal ini ISM menganalisis elemen-elemen
sistem dan memecahkannya dalam bentuk grafis dari hubungan langsung antara
elemen dan tingkat hierarki. Dalam pemodelan terdapat beberapa tahapan, yaitu:
1. Identifikasi
elemen, pada tahap ini elemen sistem diidentifikasi dan didaftar. Elemen dapat
diidentifikasi melalui penelitian, diskusi, ataupun cara lain.
2. Hubungan
kontekstual, yaitu menghubungkan elemen yang dikembangkan berdasarkan tujuan
pemodelan.
3. Matriks
interaksi tunggal (structural self interaction matrix-SSIM) yang dibentuk
berdasarkan pada persepsi responden terhadap hubungan elemen yang dinilai.
Digunakan empat simbol untuk mewakili tipe hubungan, kendala 1 (Ei)
sedangkan kendala 2 (Ej):
·
V : kendala (1)
mempengaruhi kendala (2), tetapi tidak sebaliknya.
·
A : kendala (2)
mempengaruhi kendala (1) tetapi tidak sebaliknya.
·
X : kendala (1)
dan kendala (2) saling mempengaruhi.
·
O : kendala (1)
dan kendala (2) tidak saling mempengaruhi.
Selasa, 17 Oktober 2017
Minggu, 17 September 2017
Validasi Model dalam ISM
Bagian kedua
dalam tahap ini untuk memperoleh model yang optimal, perlu dilakukan validasi
model. Proses validasi model kebijakan dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui
berbagai kelemahan dan kekurangan dari model serta mengidentifikasi berbagai
masalah yang perlu diantisipasi terkait dengan penerapan kebijakan yang
dirumuskan (Eriyanto dan Sofyar, 2007). Proses ini dilakukan dengan dua aspek,
yaitu proses perumusan kebijakan yang dilakukan pada metode pengembangan
kebijakan dan produk kebijakan melalui uji pendapat pakar atau dengan
membandingkan produk kebijakan hasil penelitian dengan kebijakan yang sedang
atau telah dijalankan.
Proses validasi
mengacu pada Sarget (1998) dengan menggunakan pendapat para pakar untuk
mengetahui kesesuaian dan kelayakan model serta kebenaran logika dan teori
dalam model konseptual yang menjelaskan hubungan input-output model secara
masuk akal. Metode ISM dapat memberikan landasan analisa yang menghasilkan
informasi yang berguna dalam merancang formula kebijakan dan perencanaan
strategi. Saxena (1992) membagi program dalam sembilan elemen, yaitu:
- Sektor
masyarakat yang terpengaruh
- Kebutuhan
program
- Kendala
utama
- Perubahan
yang dimungkinkan
- Tujuan program
- Tolok
ukur untuk menilai setiap tujuan
- Aktivitas
yang dibutuhkan guna perencanaan tindakan
- Ukuran
efektivitas untuk menilai capaian setiap aktivitas
- Lembaga
yang terlibat dalam pelaksanaan program
Kamis, 17 Agustus 2017
Langganan:
Postingan (Atom)


