Selasa, 17 Mei 2016
Kamis, 21 April 2016
Dasar Pemetaan dalam ISM
Pemetaan dasar yang menjadi bahan utama untuk analisis ISM
meliputi: Pertama, need analysis ‘analisis kebutuhan’ yang berperan
mengidentifikasi stakeholders, kebutuhan stakeholders tersebut yang bersifat
umum maupun khusus, yang kemudian ditampilkan dalam bentuk komponen info dan
relevansinya terhadap masing-masing stakeholders, termasuk informasi tentang
kemungkinan adanya sinergi atau konflik dari suatu komponen info.
Hal kedua terkait dasar pemetaan dalam analisis ISM adalah
causal loop diagram atau ‘diagram lingkar sebab-akibat’ yang mencerminkan
interaksi sebab-akibat (positif atau negatif) diantara komponen-komponen info
yang dibuat secara menyeluruh dan/atau parsial untuk memberi penekanan terhadap
masalah tertentu.
Ketiga dan terakhir adalah black box diagram. Diagram kotak
hitam atau sering disebut diagram input-output yang mencerminkan proses
berbagai input (terkontrol, tidak terkontrol dan lingkungan) menjadi berbagai
output (yang dikehendaki dan tidak dikehendaki), serta feedback untuk manajemen
pengendaliannya.
Ketiga hal ini merupakan bagian penting dalam proses pemetaan dasar masalah yang nantinya kemudian menjadi bahan utama untuk analisis metode Interpretatitve Structural Modeling ini. Semakin lengkap ketiga hal ini dibuat, semakin baik pula model ISM yang menjadi rujukan nanti.
Sabtu, 19 Maret 2016
Konsep Rule-Based
Merepresentasikan pengetahuan (knowledge) dapat dilakukan
dengan cara rule-based atau dicerminkan oleh obyek-obyeknya. Rule ‘aturan’
adalah pernyataan kondisional yang berhubungan dengan aksi atau outcome dalam
kondisi tertentu. Pendekatan rule-based menggunakan aturan-aturan berbentuk IF-THEN
‘JIKA-MAKA’.
Rule-based expert system modern pada umumnya didasarkan pada
model pemecahan masalah manusia (Human Problem Solving) yang ditulis oleh Newel
dan Simon (1972) dalam bentuk memori jangka panjang (aturan-aturan), memori
jangka pendek (memori kerja) dan pemroses kognitif (mesin inferensi).
Rule-based expert system konvensional, menggunakan
pengetahuan ahli manusia untuk memecahkan permasalahan yang ada di dunia nyata
yang biasanya membutuhkan kecerdasan manusia. Pengetahuan ahli ini biasa
direpresentasikan dalam bentuk rules ‘aturan-aturan’ atau dalam bentuk data
dalam komputer.
Rule-based expert system terdiri dari sekumpulan
aturan-aturan yang dapat diaplikasikan berulangulang pada sekumpulan fakta.
Konsep-konsep penting yang digunakan dalam suatu system rule-based, antara
lain: a. Fakta merepresentasikan keadaan-keadaan yang menjelaskan situasi
tertentu dalam dunia nyata; b. Aturan merepresentasikan heuristics ‘heuristik’
yang menetapkan sekumpulan tindakan yang akan dilakukan dalam kondisi tertentu
dimaksud.
Rabu, 17 Februari 2016
Validasi Model dalam ISM
Untuk memperoleh model optimal, perlu dilakukan validasi
model. Proses validasi model kebijakan dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui
berbagai kelemahan dan kekurangan dari model serta mengidentifikasi berbagai masalah
yang perlu diantisipasi terkait dengan penerapan kebijakan yang dirumuskan
(Eriyatno dan Sofyar, 2007). Proses uji validasi pada penelitian kebijakan
dilakukan terhadap 2 aspek, yaitu proses perumusan kebijakan dan produk
kebijakan.
Validasi produk kebijakan dilakukan melalui uji pendapat
pakar atau dilakukan dengan membandingkan produk kebijakan hasil penelitian
terhadap kebijakan yang sedang berjalan atau sudah dijalankan. Untuk verifikasi
proses perumusan kebijakan dilakukan terhadap metode yang digunakan dalam
pengembangan kebijakan.
Validasi yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada
Sargent (1998) adalah face validity. Proses validasi dilakukan dengan
menggunakan pendapat pakar untuk mengetahui kesesuaian dan kelayakan model
serta kebenaran logika dan teori dalam model konseptual yang menjelaskan
hubungan input-output model secara masuk akal. Di samping itu, uji validitas
juga dilakukan terhadap kinerja beberapa tehnik yang digunakan yaitu ISM.
Senin, 11 Januari 2016
4 Kuadran dalam Metode ISM
Metode ISM terdiri dari dua tahapan dengan
dua kegiatan utama yaitu penyusunan hirarki dan klasifikasi sub elemen. Klasifikasi
sub-elemen mengacu pada hasil olahan dari RM yang telah memenuhi aturan Transitivity. Hasil olahan tersebut
didapatkan nilai Driver-Power (DP)
dan nilai Dependence (D) untuk
menentukan klasifikasi sub elemen yang digolongkan dalam empat sector (Santoso
dan Marimin, 2001), yaitu :
Sektor 1 : Weak driver-weak dependent variables (Aotonomous). Peubah disektor ini tidak
berkaitan dengan system dan mungkin mempunyai hubungan kecil, meskipun hubungan
tersebut bias kuat
Sektor 2 : Weak driver-strongly dependent variables (Dependent) Peubah
pada sector ini adalah peubah yang tidak bebas.
Sektor 3 : Strong driver-strongly dependent variables (Linkage). Peubah
pada sektor ini harus dikaji secara hati-hati sebab hubungan antar peubah dalah
tidak stabil. setiap tindakan pada peubah tersebut akan memberikan dampak
terhadap lainnya dan umpan balik pengaruhnya bisa memperbesar dampak.
Sektor 4 : Strong driver-weak dependent variables (Independet). Peubah pada pada sektor ini merupakan bagian sisa dari system dan disebut
peubah bebas.
Selasa, 29 Desember 2015
[SEKOLAH METODOLOGI PENELITIAN 2016] PELATIHAN METODE AHP, ANP, DEA, ISM, SEM
BOGOR [11-15
JANUARI 2016]
BANDUNG
[18-22 JANUARI 2016]
TASIKMALAYA
[25-29 JANUARI 2016]
SEKOLAH METODOLOGI PENELITIAN adalah program baru dari
SMART Consulting (lembaga riset yang khusus bergerak di bidang pengembangan metode
riset) dalam rangka sharing knowledge
dalam hal metodologi penelitian baik yang bersifat kualitatif maupun
kuantitatif. Untuk angkatan pertama, kami adakan di 3 kota berikut: Bogor,
Bandung dan Tasikmalaya. Untuk metode riset yang akan disampaikan ada 5 metode
yaitu: Analytical Hierarchy Process (AHP), Analytical Network Process (ANP),
Data Envelopment Analysis (DEA), Interpretive Structural Modeling (ISM) dan
Structural Equation Model (SEM).
Program ini berbentuk training dengan peserta terbatas, dengan target para dosen, peneliti, mahasiswa pascasarjana dan pihak lain yang ingin mendalami metode-metode penelitian. Tools-tools yang akan dipelajari antara lain: Expert
Choice (AHP), SuperDecision (ANP), MaxDEA dan Banxia Frontier (DEA), dDSS
Decision Support System (ISM) dan Lisrel (SEM). Seluruh tools ini akan
diberikan free kepada para peserta program.
Program ini berbentuk training dengan peserta terbatas, dengan target para dosen, peneliti, mahasiswa pascasarjana dan pihak lain yang ingin mendalami metode-metode penelitian.
Kamis, 17 Desember 2015
Contoh Analisis Kelembagaan dengan ISM
Analisis struktur untuk mengembangkan agroindustri
mangga Arumanis segar dan olahan di Kabupaten Probolinggo sebagai produk yang
optimal perlu didukung oleh kelembagaan yang memadai. Dalam penelitian ini,
elemen struktur kelembagaan dibatasi pada beberapa pelaku yang dianggap cukup
berperan dalam kelembagaan agroindustri mangga Arumanis segar dan olahan,
yaitu : 1) Lembaga Perguruan Tinggi, 2) Dinas Pertanian, 3) Perbankan, 4) Pengusaha
Agoindustri Mangga Arumanis Skala Kecil dan Menengah, 5) Kluster, 6) Kadin, 7)
Pedagang Perantara (Agen), 8) Disperindag, dan
9) Koperasi.
Hasil analisis kelembagaan secara struktural dengan
teknik ISM disajikan pada Gambar 2, bahwa elemen kunci kelembagaan adalah
Disperindag (8). Hal ini menunjukkan bahwa, keberhasilan pengembangan
agroindustri mangga Arumanis segar dan olahan di Kabupaten Probolinggo sangat
ditentukan oleh kemampuan dan kinerja Dinas perindustrian dan perdagangan
(Disperindag) dalam menetapkan kebijakan yang dimiliki.
Sedangkan pihak
Lembaga Perguruan Tinggi (1), Dinas Pertanian (2), Perbankan (3),
Pengusaha Agroindustri Mangga Arumanis Skala Kecil dan Menengah (4), Pedagang
Perantara (Agen) (7), dan Koperasi (9) termasuk dalam sektor III. Elemen-elemen
pada sektor III ini merupakan peubah yang harus dikaji secara hati-hati, sebab
hubungan antar peubah tidak stabil dan dapat memberikan dampak berhasil
tidaknya suatu pengembangan agroindustri mangga Arumanis segar dan olahan di Kabupaten
Probolinggo. Hal ini berarti aparat birokrasi di daerah harus mampu menciptakan
iklim yang kondusif yang mendorong berkembangnya agroindustri, antara lain
melalui kebijakan yang memihak kepada Pengusaha Agroindustri Mangga Arumanis
Skala Kecil dan Menengah. Lembaga Kluster dan Kadin terletak pada sektor II
adalah peubah tidak bebas.
Langganan:
Postingan (Atom)



